Langit tampak mulai menjingga ketika Karin melangkahkan kaki
keluar dari gerbang sekolahnya. Keringat tampak masih mengucur di beberapa
bagian wajahnya. Setelah mencari-cari ia akhirnya menghampiri seseorang yang
sedang duduk di atas motornya yang berwarna merah marun.
“Hey.. Udah lama ya?” Karin menegurnya.
“Ngga kok.. Kelihatannya hari ini kamu lebih capek?”,
balasnya dengan sedikit tersenyum.
“Iya nih.. Kata coach
mau ada turnamen basket antar SMA gitu, Rev...”, jawab Karin bersemangat.
“Nanti Revi nonton yaa !”, tambah Karin lagi.
“Mau banget?”, Revi malah mengejek.
Dengan ekspresi wajah Karin yang sedikit bete Karin berlaga
ngambek dan pergi meninggalkan Revi. Namun tak lama kemudian ia kembali lagi
pada Revi dengan senyuman manjanya.
“Uang aku habis… Ngga bisa pulang sendiri… hehe”, ucapnya
polos.
Revi tertawa geli, “Hahaha sok ngambek sih.. Iyaa nanti aku
nonton kamu kok..”
Akhirnya merekapun pulang karena langit sudah mulai
kehilangan warnanya yang kemudian berganti gelapnya malam.
Sepanjang perjalanan Karin bergumam dalam hatinya, “Aku harus
tampil semaksimal mungkin buat bikin semuanya bangga, termasuk Revi.”
Karin adalah seorang gadis yang cantik, yang jago bermain
basket. Ia mulai mengenal basket sejak kecil, sampai sekarang ia duduk di
bangku SMA ia masih tetap menekuni hobinya. Dan Revi adalah pacar Karin sejak
awal mereka masuk SMA. Selama ini Revi sangat mengagumi keahlian Karin bermain
basket, ia tak pernah ketinggalan menonton setiap aksi Karin di lapangan.
***
“Nanti siang makan yuk.” ajak Revi ketika ia menemui Karin
sepulang sekolah.
“Yaah, siang ini Karin latihan basket sampai sore..”
“Oh.. Yaudah ngga apa kok..” Revi yang tampak sedikit kecewa
mencoba mengerti keadaan Karin yang mulai sibuk.
“Maaf ya Revi, kali ini Karin mau latihan serius dulu buat
turnamen.” Karin berusaha minta maaf
dengan senyum manisnya itu
“ Iya, tapi sebelum latihan jangan lupa makan dulu ya.” Kata Revi sambil mengelus kepala Karin yang
mungil itu.
“Oke.” Senyum bahagia Karinpun nampak.
***
“Karin ayo bangun sayang, kamu hampir telat ke sekolah loh.”
Suara lembut mamanya membangunkan Karin yang sedang terlelap tidur.
“Masih ngantuk nih ma.” Jawab Karin dengan suara yang masih
setengah sadar.
“Hey sekarang udah jam setengah 7 loh sayang, Seharusnya kamu
sudah berangkat.” Kata mama menyadarkan Karin.
“Hah? Setengah 7 ma ? aduh aku telat!” Dengan perasaan yang
kaget Karinpun panik menuju kamar mandinya yang kebetulan letaknya tidak jauh
dari kamarnya.
Lima menit yang lalu pintu gerbang sekolah Karin sudah
tertutup. Yang sebelumya Karin belum pernah telat seperti ini, sekarang dengan amat terpaksa Karin harus menunggu satu
jam pelajaran berlalu baru Karin boleh mengikuti pelajaran selanjutnya. Itulah
peraturan sekolah Karin. Jam pertama di hari ini adalah matematika, biasanya
Karin tak pernah ketinggalan untuk pelajaran ini, maka dari itu Karin sangat
menyesal terlambat hari ini.
Saat istirahat tiba. “Tadi pagi kamu telat ?” Perkataan itu
langsung terucap saat Revi menemui Karin di depan kelas Karin.
“Kok Revi tau ?” karin menjawab dengan polos.
“Haha jelas aku tau Karin, aku kan selalu merhatiin
kamu.” Kata Revi gemas sambil mengacak ngacak rambur Karin.
“Iya, tadi pagi aku telat.” Jawab Karin lemas.
“Pasti karna kamu cape latihan ya ?” kata Revi
mengkhawatirkan Karin.
Namun ternyata keadaan
seperti itu tak hanya berlangsung satu kali, setiap Revi mengajak Karin
meluangkan waktu bersama. Karin selalu menolak, karena Karin sudah terlalu
sibuk dengan latihan basketnya. Revi khawatir
dengan keadaan Karin yang memporsir dirinya untuk latihan setiap hari. Revi
selalu memberi nasihat pada Karin tapi Karin keras kepala, ia tak mendengarkan.
“Kar, nanti kamu masih sibuk latihan juga ?”, kata Revi
dengan perasaan yang sedikit sedih saat mereka makan bersama sepulang sekolah.
“Iya nih ,rev. dua hari lagi aku tanding loh. Kamu lupa ?”, Karin
menjawab.
“Ngga kok aku ngga lupa Karin. Aku cuma khawatir kamu terlalu
sibuk, emangnya ngga ada hari tenang sebelum kamu tanding ?”
“Ngga kok, aku ngga akan kenapa-kenapa Revi. Lagian aku harus
latihan terus biar bisa nampilin yang terbaik.”
“Tapi kapan kamu ada waktu buat akunya ?”, Revi mulai kesal.
“Ya harusnya kamu ngerti dong! Aku kan mau nampilin yang
terbaik buat kamu juga.”, emosi Karin mulai terpancing.
“Aku ngga pernah minta kok.”, sahut Revi datar.
Mendengar ucapan Revi, Karin tersentak. Ia terdiam dan tidak
lama kemudian langsung pergi meninggalkan Revi dengan air mata yang terlihat
samar mengalir di pipinya.
Untuk sesaat Revi terdiam, dalam hatinya ia merasa bersalah,
namun ia hanya duduk diam, sampai beberapa saat kemudian perasaan tidak enak
menyadarkan Revi dari lamunannya. Ia akhirnya beranjak dari tempat duduknya,
bergegas mengjar Karin yang mungkin belum terlalu jauh.
Namun tidak begitu jauh dari gerbang sekolah Revi menemukan
kerumunan orang di tengah jalan. Perasaan Revi semakin tidak enak, iapun
berusaha menerobos kerumunan itu untuk mencari tahu ada apa sebenarnya.
Revi terkejut, ia seakan tidak percaya kalau yang
ditemukannya ternyata Karin yang tubuhnya berlumuran darah.
“Tadi dia ketabrak mobil.”, ujar seseorang dikerumunan itu.
***
Suara sorak-sorai penonton terdengar ramai saat mendukung tim
basket putri sekolah berlaga di lapangan. Karin tidak bermain, ia hanya duduk
menonton, namun bukan dari bangku pemain pengganti, ia duduk di bangku
penonton, lebih tepatnya di atas kursi roda. Karin yang seharusnya memimpin
timnya bermain terpaksa diistirahatkan karena cidera parah pada kakinya, butuh
waktu berbulan-bulan untuk Karin sembuh. Karin begitu sedih dan terpukul, ia
bertengkar dengan Revi karena latihan yang sekarang malah sia-sia. Karin
kehilangan semua yang ia perjuangkan.
Tiba-tiba seseorang mengelus kepala Karin dari belakang.
Ternyata Revi, ia datang membawa seikat bunga mawar.
“Hey, jagoan.”, goda Revi dengan senyum manisnya.
“Apaan sih? Kamu ngga liat aku kaya gini? Jalan aja aku ngga
bisa, boro-boro main basket”, Karin sedih.
“Kar, aku ngga pernah minta kamu buat jadi jagoan basket atau
apapun, aku selalu bangga sama kamu, tanpa harus kamu kerja keras dan berjuang
mati-matianpun kamu tetep yang terhebat buat aku.”
Karin menangis terharu.
“Aku sayang kamu, Rev..”, balas Karin sembari tersenyum.
*Selesai*